Jadi WM (Working Mom), tetep bisa ngASI kok!!

Setelah sekian lama blog saya ini jadi anggur (dianggurin maksudnya… hihi), akhirnya mood saya untuk menulis tiba juga. Kali ini saya akan membahas tentang dunia perASIan yang saya masih jalani saat ini… hohoho… Tahu ngga sih bund, zaman sekarang gini ngga sedikit kita temuin bunda2 yang lebih memilih memberikan SuFor (Susu Formula) ke anaknya padahal sebetulnya dia bisa kasih ASI ke anaknya. Padahal, meskipun harga SuFor jaaaauh lebih mahal daripada ASI, tapi kandungannya tidak ada yang bisa menyerupai dan menandingi ASI. Jadi jangan hanya karena ingin terlihat “mampu” beli trus jadi menggunakan SuFor sebagai pengganti ASI ya, bund… Baik bunda itu ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja tetap bisa kok memberikan ASI yang cukup buat debaynya…. Yang penting terus berusaha, berdoa, dan positive thinking… Kecuali memang kondisi fisik atau anatomi si ibu yang menyebabkan tidak bisa menyusui bayinya… tapi kejadian seperti itu sangat jarang terjadi, bund… Eitss, saya bukan anti SuFor yahh… tapi saya pro ASI… 🙂

Oke, kembali ke topik… saya ingin share sedikit pengalaman saya selama menjadi “ibu perah” di kantor…(halahhh….). Jadi begini, sekitar 3 minggu sebelum cuti saya habis, saya mulai hunting perlengkapan “perang” selama berada di kantor. Karena untuk dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama, saya tentu mencari peralatan yang nyaman dipakai dan pastinya murah harganya (hihi…teuteuppp).

Setelah muter2 cari kesana kemari tanya ini itu ke mba2 penjual, maka saya dan suami putuskan untuk membeli:
1. breast pump merk UNIMOM manual MEZZO (waktu itu juga free plastik ASI merk NATUR,
2. cooler bag merk UNIMOM juga,
3. Satu lusin botol kaca uk 120ml, dan cup feeder 2 buah.
Di sinilah babak baru dari kegiatan menyusui saya dimulai. Karena saya bertekad tidak ingin memberikan ASI melalui media dot, tapi menggunakan cup feeder, jadi saya perlu memberikan waktu kepada si mbak dan debay “latihan”. Ya, si mbak latihan memberikan susu menggunakan cup feeder, nah debaynya juga latihan dong mimik pake cup feeder. Menyaksikan debay latihan mimik dengan media itu tidak semulus jalan tol. Ada suka dukanya juga (hehehh lebay…), tapi saya menemukan triknya (hahahaa….), jadi saya harus sembunyi dulu ke tempat yang ngga kelihatan sama debay, kalo bisa agak jauh, jadi debay ngga tahu kalo kita ada di situ, karena kalo kita ada di tempat yang sama dengan dia latihan, pasti dijamin anak kita ngamuk jejeritan minta mimik langsung dari pabriknya. Memang, yang melatih debay seharusnya orang lain selain ibunya, karena dia sudah mengenali ibunya, ketika ibunya kasih mimik dengan media (cup feeder) debay akan merasa ditolak oleh ibunya seolah-olah tidak mau menyusui dia, kasihan kannnn… Alhamdulillah, kurang lebih 10 hari anak saya sudah lebih pintar mimik menggunakan cup feeder, ya masih sedikit tumpah tapi sudah ngga ngamuk2 seperti di awal. hehehe…
Sampai lah tiba saatnya saya masuk kantor hari pertama. saya mulai memerah per 2 jam. Pukul 8, pukul 10, pukul 12, pukul 2, dan pukul 4. Wahhhh rajin banget dulu saya yahhh…. hihi.. Nah setelah beberapa bulan, karena beban kerja saya di kantor agak bertambah secara bertahap, jadi frekuensi memerah saya juga agak berkurang, jadi jam 8, jam 12, dan jam 3 atau 4. Di bulan ke-4, saya merasa produksi ASI saya menurun, sebelumnya sekali perah di pagi hari bisa sampai 240ml, turun menjadi 170-200ml, hikss sedih sekali… Akhirnya atas saran teman yang seorang dokter, saya mengkonsumsi domperidone, dia bilang obat itu berpengaruh terhadap hormon prolaktin yaitu hormon yang bertugas memproduksi ASI. Setelah minum obat tsb selama 4 hari plus saya juga memerah di malam hari demi mendapat hasil yang maksimal, saya merasa ada perubahan, jumlah ASI yang bisa saya perah kembali ke jumlah semula.
Setelah anak saya mulai MPASI, jumlah ASIP yang dia minum agak berkurang, begitupun frekuensi mimiknya saat saya libur, lebih jarang, sehingga produksi ASI saya kembali menurun. Tapi saya tidak terlalu khawatir karena anak saya sudah menerima asupan lain selain ASI, dan juga hasil perahan saya tiap harinya juga masih lebih banyak daripada yang dia minum. Meskipun frekuensi mimik berkurang, tapi alhamdulillah berat badannya masih normal, bahkan tergolong gendut. hihi.. Mungkin juga karena dia makannya banyak dan lahap sekali…
Saya melanjutkan proses memerah hingga anak saya usia 19 bulan. Makin besar, dia sudah ngga mau minum ASIP lagi… Sudah diakali pakai sedotan, gelas, magmag, sampai dibuat es susu teuteupp ngga mau… waduwhhhhh… bunda pusyiiing kalo begini nehhh… hahaaa… akhirnya karena anak saya benar2 tidak mau lagi minum ASIP, sebulan kemudian saya memutuskan untuk tidak memerah lagi di kantor, tapi tetap menyusui selama di rumah. Yah, ada plus dan minusnya, plusnya saya tidak perlu repot lagi bawa peralatan memerah dan menyimpan ASIP, tapi minusnya, saya merasa kuantitas ASI saya semakin menurun. Tapi saya mencoba berpositive thinking bahwa anak 20 bulan nutrisi utama bukan lagi dari ASI, tapi dari makanan, jadi saya lebih semangat kasih makanan yang bergizi seimbang untuk anak saya, heheee. Sempat saya ingin kasih susu UHT, tapi sayangnya anak saya ngga doyan. Kata orang sih mungkin karena dia masih mimik sama saya jadi dia nolak UHT. Yaa kita lihat saja nanti ya setelah dia 2 tahun, nanti saya posting lagi deh (kalo mood menulis datang lagi yaaa…hihihi).
Begitu lah kisah saya yang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tidak semulus jalan tol (hehe lebay), tapi saya bersyukur karena (masih) bisa memberikan ASI kpd anak saya hingga usianya sekarang 22 bulan. Mungkin di luar sana banyak bunda2 yang menghadapi rintangan yang lebih sulit dan jatuh bangun demi memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.
 
Bunda Shidqi

Serba Serbi Menulis

Mungkin bagi sebagian orang, menulis adalah sebuah kebutuhan, ada juga yang menjadikannya sebuah tuntutan. Lalu bagaimana menurutmu, teman? Jujur saja, aku juga bukan orang yang pandai menulis, ini adalah tulisan pertamaku di blogku ini. Setelah sekian lama setiap googling hanya membaca tulisan dan hasil karya orang lain, ternyata dalam hati kecilku ini ada keinginan untuk mencoba membuat tulisan yang mungkin biaa menginspirasi atau sekedar berbagi informasi seperti mereka-mereka itu lho, yang telah menginspirasi dan menumbuhkan semangatku untuk bisa seperti mereka. Cee ilehh….prikitiww…

Sebenarnya dulu aku pernah juga memiliki blog, yaa sekiar 4 tahun yang lalu. Sudah lama sekali ya..hehe.. Ya begitulah, karena dulu aku membuat blog tidak ada keinginan langsung dari hati, tapi ayahku yang menyuruh. Alhasil blogku tidak pernah update dengan tulisan2 dan jarang kubuka, sampai akhirnya aku lupa username dan password nya..haha.. Maka dari itu daripada aku pusing mengingat2, lebih baik aku membuka lembaran baru (cee ileehh,,) dengan membuat blog baru.

Memang, menulis itu tidak mudah. Dibutuhkan pemikiran, fokus dan berlatih untuk membuat tulisan yg berkualitas dan enak dibaca (lho.. Baca kok enak ya..hehe). Dengan latihan, menulis akan menjadi mudah. Yang paling penting adalah motivasi diri sendiri untuk tetap istiqomah dalam tulis menulis. Oleh karena itu.. Ayo menulis, teman!